In Tulisan ini telah di ikutsertakan dalam lomba by ellunar publisher 2015

Cerpen: Senja di Balikpapan by Nurul Muta Aidah






Karya: Nurul Muta Aidah


 Senja melanda Balikpapan, dimana semua kehidupan siang hari perlahan-lahan meredup dan bergantikan cahaya lampu di berbagai penjuru kota membuat biasan cahaya nan indah.

 Aku perlahan mengangkat kamera dslr yang menggantung di leherku, lewat view finder, aku mengarahkan kameraku ke suasana kota Balikpapan, ku atur dengan baik fokus lensa kameraku dan mencari saat-saat yang tepat. Saat matahari akan terbenam.

Warna jingga yang berpadu dan membaur dengan langit biru menjadikan sensasi yang sangat indah, apalagi saat dilihat dari ketinggian seperti ini.

Aku sedang berada di balkon salah satu kamar hotel di kota Balikpapan.

 Sungguh aku dapat melihat kota Balikpapan yang berbatasan langsung dengan selat Makassar. Maka tak heran jika Balikpapan dijuluki pintu gerbang menuju hutan Borneo dan pintu gerbang menuju provinsi Kalimantan Timur.

 Balikpapan adalah suatu kota yang dijuluki kota minyak dan memiliki maskot Beruang madu. Kota dengan biaya hidup termahal di Indonesia Bagian Tengah ini banyak sekali di datangi oleh investor asing.

 Walaupun demikian, Balikpapan tetap kota tercintaku, bersih, indah, aman, dan nyaman.

 "Rara!" betapa kagetnya aku saat ada yang memanggilku tiba-tiba. Aku menoleh kearah suara di belakangku. Senyumku langsung merekah saat aku tau siapa yang memanggilku. "Reno..."

 Sosok lelaki yang tinggi dan tampan itu adalah temanku dari kecil. Ia telah mengajarkanku banyak hal terutama untuk hidup sederhana dan tidak berfoya-foya dengan harta yang dimiliki kedua orang tua kami.

Aku masuk kedalam dan duduk di sofa biruku, sembari memeriksa semua foto yang kuambil tadi.

 "Enak yah, kalau jadi anak pemilik hotel. Bisa leluasa bergerak."

 "Lohh… kamu sendiri anak pemilik salah satu mall di Balikpapan?"

 "Ya sudah. Jadi jalan gak?"


***


 Kilang minyak Balikpapan adalah salah satu daerah vital di kota Balikpapan. Lokasi ini berada di area seluas 2,5 km persegi dan dikelilingi pagar kawat. Kita tetap bisa menikmati lokasi yang bersebelahan langsung dengan Pelabuhan Semayang ini lewat jalan yang terbentang di hadapan  kilang minyak. 

"Makasih yah Ren… udah mau ngajakin aku jalan-jalan." Aku berbicara kepada Reno yang sedang fokus memotret beberapa view yang menurutnya cantik. Masih dengan posisi duduk di atas motor, Reno tiba-tiba menghadap ke arahku dan langsung membidikkan kameranya tepat di saat aku tersenyum.

 "Ihh… apaan sih Ren."

 "Gak papa ko Ra."

 Motor Reno kembali melaju mulus di jalanan senja Balikpapan.


***


 "Hasil fotomu tidak buruk." Reno tiba-tiba berdiri di sebelahku dengan membawa dua arum manis. Saat ini kami sudah duduk di salah satu bangku di Taman Bekapai. Terletak di jantung kota dan memiliki air mancur yang indah ditengahnya.

Ada banyak foto-foto yang sudah ku ambil di beberapa lokasi wisata di Balikpapan. Pasar kelandasan, Pasar inpres, Hutan lindung sungai wain, Penangkaran buaya teritib, Pantai manggar, Pantai kemala, Monpera, Dome Balikpapan, Gedung kesenian Balikpapan, dan terutama Kilang minyak Balikpapan. Masih banyak lagi lokasi wisata yang tidak sempat aku bisa sebutkan.

 Foto-foto itu biasanya aku upload ke instagram dengan hastag #BalikpapanKekinian. Hal itu biasa di lakukan oleh remaja Balikpapan kekinian jadi tak heran aku tidak mau ketinggalan trend di kotaku sendiri.

 "Ra…"

 "Iya Kenapa?"

 "Senja besok mau ikut aku kesuatu tempat gak?"

 "Kemana?"

 "Udah… ikut aja."

 "Baiklah."


***


 Hari telah berlalu. Senja kembali hadir di hadapanku. Seperti janjiku dan Reno kemarin.

Saat ini aku dan Reno sedang berada di salah-satu toko penjualan bingka khas Balikpapan yang terletak di dekat Pelabuhan Semayang. Bingka yang ku makan adalah bingka keju, sedangkan punya Reno bingka cokelat. Namun, sebelum menyantap kedua hidangan di hadapan kami, aku sempatkan untuk memotret makanan nan lezat itu dengan android milikku dan langsung menguploadnya di path.

 'Bingka enak nan lezat. With Reno. At Bingka Balikpapan.'

 Begitulah kalimat yang kutulis di akun path milikku. Reno sama sekali tidak pernah protes dengan kelakuanku yang demam med-sos walaupun terkadang aku tidak menghiraukan Reno, tapi di tetap setia menemaniku.

 Selesai makan aku dan Reno langsung bejalan-jalan di pesisir pantai kemala. Pantai dengan pasir putih yang halus serta beberapa gazebo menghiasi tepi pantai.

  Aku berdiri menikmati semilir angin yang menerpa wajahku. Ku fokuskan kameraku untuk menghasilkan gambar yang kuinginkan. Tanpa ku sadari Reno telah berdiri sebelahku dengan sebuah kotak beludru merah yang berisi ‘cincin'.

 "Apa ini?"

 "Will you marry me?"

 Aku begitu tercengang dengan kelakuan Reno. Tak kusangka perasaanku yang tidak pernah ku-ungkapkan selama ini benar-benar terbalaskan. Air mataku tiba-tiba menetes, disaat romantis seperti ini, disaat senja nan indah ini, orang yang selama ini bersamaku ternyata menaruh hati padaku. Aku tak sanggup untuk mengkatakan tidak, terlebih kedua orang tua kami telah bersahabat sejak lama. "Yes."

 "Sure?" Reno seperti tidak percaya. Aku hanya bisa mengangguk. Reno langsung memelukku disinari cahaya terakhir matahari senja Balikpapan.


Balikpapan, kubangun, kujaga, dan kubela. Seperti cintakku kepada Reno.


***



( Yeeayy... Cerpennya udah kelar.
Makasih buat kalian yang udah nyempatin baca cerpen ini.

Ini adalah salah satu cerpen karyaku.
Cerpen ini pernah di ikut seratakn dalam lomba menulis cerpen by ellunar publisher dengan tema Town Sweet Town.

Tapi memang bukan rezeki. Jadi saya kalah dari banyaknya pesaiang.

Mohon tinggalkan komentar...)

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda, agar saya dapat memperbaiki kesalahan saya.
karena setiap manusia tidak luput dari kesalahan. ;)

Social Media

Join Us

Diberdayakan oleh Blogger.