In

Masih Belajar (Part 1)

 Masih Belajar (Part 1)


Subuh itu dengan bermodalkan tas jinjingan dan ransel berisi laptop tua dengan berat 1kg. Aku berjalan ditemani ibuku menuju sebuah angkutan umum yang sudah siap membawa kami ke Pelabuhan untuk menaiki sebuah kapal laut yang akan membawa kami menyeberang laut guna menuju kota kelahiranku dimana aku akan melanjutkan pendidikanku disana. Uang yang kami bawa tidak lebih dari 800.000 rupiah, itupun hasil menjual kalung emas milik ibu yang sudah dipersiapkan guna membantu biaya awal pendidikan lanjutan anaknya.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, aku mendengar beberapa pesan yang dibawa angin terkait orang-orang yang menganggap aku tidak akan bisa melanjutkan pendidikan S1. "Dari mana dapat duit buat sekolah tinggi, toh bapaknya cuman tukang ojek." Sakit hatiku, tapi kutahan karena aku tahu kelemahanku setidaknya kucoba peruntunganku. Ada sedikit kepercayaan dalam diri jika ku bisa kembali ke tanah kelahiranku mungkin rezekiku akan bagus disana, pikirku saat itu.

Kapal itu benar-benar berangkat membawaku dengan sejuta mimpiku yang belum tentu pasti arahnya kemana, bahkan aku belum yakin akan di terima oleh kampus impianku. Dengan modal nekad dan uang pas-pasan kakiku benar-benar tiba di tanah kelahiranku. Makassar. Saat aku berusia 1 tahun orangtuaku sudah merantau ke tanah Kalimantan dan mencoba peruntungan hidup disana. Awalnya bapak sudah bekerja disalah satu perusahaan di Papua, namun karena beberapa pertimbangan dan juga masukan dari berbagai pihak akhirnya kami pindah ke Kalimantan. Hidup dari 0 hingga alhamdulillah bisa memiliki rumah sendiri. Lucunya masih ada yang berkata bahwa "Mengapa seorang tukang ojek bisa memiliki rumah sendiri" Padahal sejak kita didalam kandungan semua rezeki kita sudah di takar bukan. Koreksi jika saya salah.

Matahari pagi benar-benar menyambutku dengan cerah dan sangat indah, dari kejauhan aku benar-benar melihat Makassar sebagai kota asing. Bagaiman tidak, selama ini yang kutahu ibu dan bapakku memang sempat berkuliah di Makassar kemudian menikah dan aku lahir dikota yang saat itu masih bernama Ujung Pandang dan mereka pindah ke Kalimantan di usiaku yang menginjak 1 tahun.

Aku bisa melihat berbagai jenis kapal yang sebelumnya hanya kapal penggangkut minyak ataupun batu bara yang hilir mudik di teluk kalimantan, kini kapal nelayan dan kapal khas Makassar benar-benar bisa kulihat dengan jelas. Hal pertama yang bisa kami tumpangi menuju rumah saudara bapak di Makassar adalah Becak. Becak yang dikayuh olah bapak-bapak membawaku dan ibuku menelusuri jalanan kota itu dari pelabuhan menuju rumah saudara bapak yang akan menjadi tempat dimana aku akan beristirahat sebelum hari Tes masuk universitas dilaksanakan.

Makassar kota besar yang bahkan membuatku terkejut dengan gedung-gedung tinggi berhimpitan serta suara klakson dari kendaran yang membuatku belum terbiasa dengan semua hal tersebut, benar-benar berbeda dari tempat dimana aku sebelumnya dibesarkan. "Ahh.. bahkan disini ada jalanan dengan 4 lajur." Pikirku saat itu. Kayuhan demi kayuhan sepada membawaku melintasi beberapa kali lampu merah, simpang empat, simpang 3, jalanan kecil, pasar, hingga aku tiba di rumah saudara bapak yang bahkan terakhir aku kesana saat aku berusia 1 tahun. Setajam apa memori anak berusia 1 tahun untuk mengingat setiap tempat yang pernah di singgahinya dulu? Aku lupa tapi hanya ada beberapa cuplikan ingatan tentang Makassar yang masih kuingat tapi bisa jadi itu hanya khayalan atau ingatan tidak jelasku.

"Assalamualaikum." Suara ibuku menyapa pemilik rumah. Ibu-ibu yang seusia ibuku menyambut kami dengan ramah kemudian mempersilhakan kami masuk. "Wah ternyata sudah mau masuk Kuliah. Semoga diterima di Kampus Negeri yah." Kata ibu-ibu yang ternyata adalah tanteku.

"Iya tante aamiin." Jawabku.

Dirumah itu ada banyak orang yang aku asing dengan wajahnya, namun aku perlahan mengenal mereka yang merupakan sepupu sekaliku yang mana mereka anak dari saudara kandung bapakku. Bapakku anak bungsu dari 6 bersaudara dan secara langsung mereka anak dari kakak bapakku. 

Malam harinya aku duduk di balkon rumah itu, menatap gemerlap Makassar dengan takjub dan rasa tidak percaya bahwa aku bisa tiba di kota besar itu bahkan akan melanjutkan pendidikan disana, bagaimana yah rasanya masih tidak percaya. Hari-hari pertamaku di Makassar benar-benar ku habiskan untuk menemani mamahku bernostalgia dengan teman-teman lamanya semasa berkuliah dulu serta keluarga mamah dan aku baru tahu kalau mamah juga memiliki saudara angkat disana.

---

Baiklah sudah malam aku lanjut besok mengetiknya...

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Tuhanku Malam Ini Aku Ingin Bercerita

Hal ini cukup mengganggu tidurku dalam sepekan ini. Mimpi yang terulang atau bahkan berlanjut bagai roll film tua hitam putih yang di tonton banyak orang dan seolah aku adalah pemeran utamanya.

Tuhanku malam ini aku ingin bercerita
Tentang kesedihan yang membuatku lupa akan kehidupanku,
Tentang kesedihan yang membuatku terpaku padanya terus,
Tentang kenyataan yang ikut andil bermain dalam mimpiku,

Tuhanku aku sedang jauh dari mereka tapi bahkan kesedihan mereka masih tergambar jelas di ingatanku,
Tuhanku aku takut mimpi-mimpi itu menjadi nyata seolah segalanya akan berubah dan semuanya menjadi kesedihan,
Tuhanku aku masih takut... takut kenapa ada pisau tajam dalam selimut yang bahkan mendekap kami dalam kedinginan, selimut yang melindungi kami dan membuat kami nyaman, tapi ada pisau yang setiap harinya di asah dan semakin tajam hari demi harinya.

Awalnya aku tidak tahu hal itu ketika aku masih dekat, tapi ketika aku jauh kenapa semuanya terungkap, bahkan lolongan anjing yang jauh itu justru terdengar lebih dekat di telingaku.

Tuhanku doaku masih tetap sama
Lindungi kami yang sedang berpisah jarak dan waktu,
Lindungi kami yang hanya merindu dalam doa,
Lindungi kami yang sewaktu-waktu bisa tertusuk oleh pisau itu.

Tuhanku malam ini aku ingin bercerita
Aku sedang menyusun hal untuk keluar dari selimut nyaman itu,
Aku juga sedang mencari hal yang dapat melindungi kami dari pisau itu,
Aku juga sedang mengumpulkan cara untuk menghentikan sandiwara itu.

Tuhanku malam ini aku bercerita terlalu banyak tapi hal itu yang ingin aku ceritakan malam ini,
Hal itu terlalu menggangguku akhir-akhir ini.

Tuhanku lagi-lagi doaku masih sama
Lindungi kami dimanapun kami berada
Lindungi kami yang terpisah oleh jarak menyakitkan ini
Lindungi kami hingga kami bertemu di waktu baik yang sedang kau persiapkan.

NMA_
15 Januari 2019

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Hari Kelahiran Adikku

Before this, i wanna say.
"Happy Birthday to my brother, taqwa. You still my little bro in my eyes but the reality every year we grow up to fast. One by one we leave home to continue our study. But remember we have to back after all of that coz we still have a great parents who stay and pray to support us and backup us to help us in any situation."

Tepat 12 januari 2019 atau 18 tahun yang lalu di 12 januari 2001.
Mamahku melahirkan bayi yang merupakan adik laki-lakiku saat ini. Aku sendiri saat itu berusia 3 tahun dan belum paham apa itu manjadi seorang kakak tapi hal yang masih tersimpan saat ini adalah hari itu aku ingat bahwa sacara tidak langsung aku belajar menjadi seorang kakak dimana aku harus lebih mandiri dalam mengerjakan keseharianku, aku mulai tau bagaimana berjalan sendiri di koridor rumah sakit tanpa rasa takut dan pergi ke minimarket hanya untuk membeli snack kesukaanku tanpa lagi ditemani oleh papahku.

Yah... aku tau sebelumnya aku selalu ditemani kemanapun pasca kejadian aku pernah hilang tapi naluri anak kecil masih membekas saat itu semuanya terasa besar dan aku kecil tapi sekarang aku seorang kakak dan aku tidak boleh takut dan mulailah diri ini berekperimen menjelajahi rumah sakit tempat adikku di lahirkan (salah satu RS di Balikpapan).

Tahun demi tahun bergeser dan beberapa memori membuatku sulit tidur malam ini. Dalam halnya persaudaraan ada namanya pertengkaran, menangis, berkelahi, di hukum orang tua, tapi aku sadar dia tetap adikku apapun itu sekalipun ada orang dewasa yang berani memarahi adikku aku bakalan membela adikku.

Yah.. aku perempuan dan adikku laki-laki tapi naluri seorang kakak selalu ada untuk melindungi adiknya.

Sekarang aku kuliah dan adikku di pesantren kami tinggal jauh orang tuaku pun hanya berdua di rumah. Tapi kami yakin doa tetap mempersatukan kami dimanapun kami berada.

Dihari jadi adikku ini aku selalu yakin bahwa mamah dan papahku selalu mengukir nama kami dalam doa mereka. Doa terbaik itulah yang selalu melindungi dan menyertai kami.

Aku dan adikku sadar kami bukan orang yang jenius ataupun mampu mengukir prestasi yang cukup signifikan tapi kami yakin kami bisa menjadi yang terbaik dari diri kami sebelumnya.

NMA_
12 Januari 2019 (Taqwa's Birthday)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Social Media

Join Us

Diberdayakan oleh Blogger.